Day 1 March 10th 2016 14.03 wib.

miro copy.jpg

Sekolah Tu Ya Gitu Itu Lah; pake seragam rapi, sepatu hitam dengan keharusan kaus kaki dibawah lutut atau diatas mata kaki, untuk menyerap pelajaran? serahkan pada guru les.

pfft!

Saya (dan mungkin sih, beberapa orang lainnya) pernah dimarahi dan ditegur oleh guru saya sewaktu menempuh pendidikan sekolah dasar. Saat itu, saya menggambar sebuah rantai makanan dimulai dari padi dimakan ayam, ayam dimakan manusia dan manusia dimakan harimau, katanya manusia tidak termasuk dalam rantai makanan yang simpel seperti itu. Jiwa ngotot yang tidak seberapa itu saya asah dengan menemukan bukti bahwa manusia juga seorang makhluk yang bisa dimakan hewan buas.
Tapi kenyataan didunia kemudian membuktikan kebenaran guru saya.
Saya memasuki ilmu sosial yang secara tidak langsung mempelajari manusia sewaktu kuliah. Hal ini berbeda dengan apa yang saya pelajari waktu saya menjadi siswa sains di sekolah menengah. Dalam sains, manusia tak ubahnya obyek yang dapt diteliti organnya dan bagaimana tiap organ dapat memiliki virus serta penyakitnya sendiri-senidiri. Memasuki apa yang saya pe;ajari di kuliah sangatlah berbeda dengan kenyataan bahwa manusia adalah subyek utama dari alam ini. Setiap manusia yang berfikir adalah seorang manusia sebagai pusara bumi.
Terkadang, manusia adalah makhluk paling realistik di dunia. Karena mereka memiliki akal, lalu mereka berfikir bahwa mereka dapat mencipta apasaja yang dapat digunakan untuk menguasai dunia. Namun tak sedikit juga manusia yang berfikir hiper-realistik yang mengungkap bahwa ada sesuatu yang lebih realistik dari apa yang dia dapatkan secara realisitik. Manusia dapat mengendalikan akal dan nurani secara bersamaan, meski seringkali nurani terlalu banyak memelankoli kan kehidupan dengan menggiring akal ke dasar terdalam pikiran sehingga banyak mental terluka karena mendahulukan nurani, mengedepankan emosi daripada akal. Banyak juga manusia yang mengedepankan akal daripada nurani dan membantah semua hal dengan dalih pemikiran absurd yang dimotori akal, nurani dibuang jauh dengan pemikiran bahwa ialah yang melemahkan manusia.
Kenyataan bahwa, manusia itu memiliki tinggi tak lebih dari dua meter, tidak membuatnya kesusahan mengeluarkan sebuah pemikiran dari satu koma sekian persen tubuhnya untuk dapat menghasilkan benda lebih dari ratusan meter. Dengan kemampuan kerja otaknya yang tidak terbatas, kemudian manusia mulai berfikir sembarangan seolah-olah mereka adalah hal tertinggi di rantai makanan, dengan kecerdasannya menggunakan benda disekitarnya untuk menghalau benda lain. Manusia dapat menciptakan sesuatu berkali-kali lipat dari tubuhnya, hanya untuk memuaskan dirinya, atau orang lain yang dicintainya, meski mereka sudah mati sekalipun.
Manusia mengukur kebahagiaan dengan materi dan benda. Semakin mewah dan memiliki nama, benda itu maka nilainya akan semakin tinggi. Hiruk pikuk hedonis dan kebudayaan royal seperti ini seringkali tidak kita sadari dengan membiasakan diri untuk menyamankan diri kedalam keadaan damai dimana kedamaian itu berupa kenyamanan yang harus dibayar mahal dengan uang. Label antara kaya dan miskin yang diciptakan adalah untuk menghina manusia satu dengan yang lain. Dikotomi pengelompokan manusia saat ini tak hanya berhenti disitu saja mereka berubah menjadi banyak kotak-kotak dan berdiri sendiri secara mandiri. Mereka lupa, kalo mereka itu manusia, makan malam hari dan berak pagi hari, mereka juga lupa kalo kadang kencing mereka juga bau pesing.
Perbedaan antara manusia yang seharusnya digunakan untuk membantu sesamanya sekarang beralih digunakan untuk saling serang. Manusia yang pintar menyerang yang bodoh dengan mengolok-olok kebodohan, si pintar tidak tahu jika dikemudian hari si bodoh bisa saja menjadi seorang berotot dan bekerja sebagai bodiguard si pintar dan si pintar dibunuh oleh teman bodiguard dengan rencana pembunuhan seprti di film holiwood yang aktornya tidak ada yang jelek. Saat berurusan dengan ajal, si pintar bisa apa?. Tapi lihat, permusuhan dan rasa dendam tidak berakhir diantara dua orang, mereka menyebar luas dan berlipat ganda menjadi tirani emosi dalam sanubari (halah). Tapi suer, seperti di film-film kadang emmang benar adanya kalo anak dari si pintar mungkin bisa saja membalaskan dendamnya pada anak si bodoh setelah mengetahui ayahnya dibunuh oleh si bodoh. Saat tau kalo si bodoh ternyata anaknya adalah anggota cpt48 (cipete48) dan kebetulan anak si pintar ini vvota sejati maka tak dielakkan percintaan antara keduanya membuncah. Mengetahui hal ini si bodoh yang bertubuh kekar layaknya the rock tak mau tinggal diam saat menemukan surat cinta dari anak si pintar untuk anaknya. Si bodoh menganggap hal itu adalah ancaman untuk dirinya atas pembunuhannya terhadap si pintar.
Hal yang mulek rumit seperti ini tak ayal adalah karena masa lalu yang tak termaafkan dari si pintar terhadap si bodoh. Karena apa? Karena otak. Otak dapat menanam hal-hal yang kita tidak ingin lupakan. Kenangan buruk akan terus tumbuh menjadi hirarki yang memaksakan kebenaran dan keadilan untuk dirinya, mereka terkadang lupa kalo ada yang maha adil diatas atau kadang mereka tak percaya akan hal itu. Oleh karena itu pemirsa, kita terkadang harus belajar memaafkan untuk hal-hal yang remeh. Kecuali koruptor, mereka adalah teror yang nyata dan kita tak bisa lupakan hal itu, mereka lah yang telah membuat dikotomi pintar dan bodoh, dan miskin dan kaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s