day at the museum (exhibition review)

The Second Jogja International Miniprint Biennale 2016 di Sangkring Art Space dan Jogja Contemporary Coordinated by Ruang Atas dan Lir Space di Jogja National Museum.

6 sangkring

Kemarin malam tanggal 24 Mei 2016 terdapat dua acara pembukaan pameran bersamaan di dua tempat. Saya mengunjungi pameran dengan antusias karena apa yang ada di galeri kenamaan biasanya menyuguhkan atmosfer berbeda. Selain menjadi apresiator tentunya saya berbekal kamera dan tangkapan indra bertindak juga menjadi dokumentator, saat saya menulis kemudian saya perlu menitikkan sikap kritis saya terhadap pameran ini. Pameran yang saya kunjungi kali ini adalah The Second International Miniprint Biennale (JIMB) 2016 yang mengambil tempat di Sangkring Art Space, sementara pameran lain yang sedang berlangsung juga bertempat di Jogja National Museum di gedung Jogja Contemporary berisikan karya kolektif dari ruang atas, lir-space, dan lain-lain.

8 sangkring

Pameran yang saya kunjungi pertama adalah di Sangkring Art Space, pada pembukaan saya diberikan lempengan triplek kecil berukuran kurang lebih 20×20 cm untuk dicungkil sebebasnya sembari menunggu pameran dibuka. Pada saat pembukaan nama Rizal Pahlevi sering disebut-sebut bahkan celetukan serius seperti pemberian award kepada dirinya sebagai pahlawan seni grafis yang bukan berasal dari seni grafis harus segera diberikan. Setelah pameran dibuka oleh Prof Dr Dwi Marianto MFA dan 2 pembawa acaranya saya memasuki ruang pameran yang berada di lantai dua. Gedung tersebut bergaya minimalis dan industrial, sisi-sisinya merupakan batu yang dipoles sederhana dan sangaat sederhana dibiarkan alami begitu saja dengan cat tembok berwarna putih menyatu dengan abu-abu cerah yang muncul dari batu-batuan serta beton. Pengunjung terbilang ramai namun tidak sampai berdesakan untuk melihat sebuah karya.

1 jnm

Bertemakan Homo Habilis yang diungkapkan oleh Ketua Juri perlombaan Jogja Miniprint Biennale ini menjelaskan pada booklet pamerannya bahwa Homo Habilis adalah proto manusia, makhluk berjalan dua kaki yang pertama kali terbukti menciptakan alat. Oleh karenanya karya-karya yang ada didalamnya berbicara banyak seputar teknis yang menyublim dan menghipnotis pengunjung tidak terpaku pada teknis setelah karya itu dilepas dalam ruang pamer. Pergerakan yang dapat ditangkap dari pameran ini adalah persepktif baru yang melecutkan pandangan biner bahwa: ‘art lebih utama daripada craft’ sebuah antitesis pandangan bahwa teknis mampu berbicara banyak hal melebihi seni itu sendiri. Semua karya berangkat dari satu teknis yang kemudian menyublim menjadi karya seni.  Kembali pada garis dan titik yang memancarkan keindahan masing-masing sementara teknis menjadi pelecut seluruh karya yang mengusung temanya sendiri-sendiri.

11 sangkring

Karya-karya yang dipajang merupakan hasil perlombaan yang diadakan oleh Jogja Miniprint Biennale kali kedua. Karya dipamerkan dengan menggunakan bingkai kotak-kotak yang tertata rapi dengan ukuran kecil kecil namun banyak. Judul diletakkan dibagian bawah karya dan tersusun dari karya paling atas. Memancarkan kesederhanaan yang menyatu dengan gedung kotak besar. Seakan berada dalam kotak besar yang memuat kotak-kotak kecil pemilik cerita pada setiap bagiannya. Setiap karya memiliki sisi idealis dan ciri khas masing-masing seniman, menampakkan beragam teknik dengan ragam berbeda.

10 sangkrin

Pameran kedua di gedung Jogja Contemporary yang bertempat di Jogja National Museum berisikan karya-karya kolektif dari perupa muda. Sebagian besar adalah karya dua dimensi dari drawing hingga ilustrasi. Namun terdapat dua jenis karya yang bersifat seni partisipatori dan seni instalasi. Seni partisipatori menyediakan kesempatan untuk pengunjung memasuki wilayah karya yang ditata oleh senimannya, yang dihadirkan oleh Lir Space adalah tatanan meja dengan buku-buku kuno dan baru, saat akan memasuki wilayah tersebut yang perlu dilakukan adalah menggunakan sarung tangan. Hal ini merupakan pesan bahwa apa yang baru pada saat ini akan menjadi lama di masa depan oleh karenanya perlu penyediaan tempat untuk relokasi benda kuno dengn sistem pencahayaan yang baik dan tata ruang diamana cahaya yang memasuki celah dapat beriringan masuk tanpa merusak artefak yang ada.

2 jnm

Situasi klise pameran dalam galeri dan museum menjadi hal yang terus menerus timbul, hal ini sering disebabkan oleh karya seni yang itu-itu saja seperti ungkapan ‘it’s a new wine in the old bottles again…’. (Seth Siegelaub in Alexander and Patricia Norvell: Recording Conceptual Art, 2001, dalam Graham and Cook: Rethinking Curating, 2010: 57). Hal ini yang saya alami saat melihat 2 pameran berturut-turut dalam satu waktu. Bukan perihal kecenderungan saya untuk menyikapi seni media baru namun pengunjung pameran adalah seorang yang membutuhkan ide-ide segar untuk melihat bentuk lain terhadap suatu bentuk linier, oleh karenanya kesegaran tersebut membantu pengunjung menemukan pemecahan dari masalah kebaruan kini menyublim dalam gelora seni kontemporer yang redup-terang.

12 sangkring

Pameran seni seringkali menyuguhkan karya-karya baru dengan konsep-konsep segar. Perwujudan dari setiap karya selalu memberikan beragam pandangan seniman dalam menghadapi segala sesuatu dihadapannya termasuk teknik yang digunakan untuk mencipta karya-karya tersebut. Tidak ada yang salah dalam berkesenian, semua unggul dengan gaya dan ciri khas masing-masing. Semakin absurd nilai sebuah karya maka hal itu akan memancing penasaran, jika pengunjung tidak segera menemukan informasi terhadap karya tersebut mereka biasanya cenderung melupakan karya tersebut meskipun sering terngiang dan menghantui pengunjung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s