Jogja as an Artist’s Love at the First Sight

5
Just met Anandita, she’s an auctioner from Melbourne, Australia. She was inserting a written dream into a piggy chicken, chop chop chop!.

 Exhibition Review: First Sight in Jogja

Cemeti Art Space

June 4th 2016 at 20.00 or 8pm there was an opening of exhibition tittled ‘First Sight in Jogja’, held in Cemeti Art Space. This exhibition participated by Local artists and international, they are Angki Purbandono, Christine Nguyen, Heri Dono, indieguerillas, Lee Wan, dan Marco Rios. Held collectively as a result of meditate to rethink about Jogja at their first sight, contain of 8 tittled artworks that will blow your minds out bayb!.

8
a pair of ‘wellcome robot’ by Heri Dono starting a warm hello to all visitors.

This exhibition is about those collective artists’s first sight about Jogja. They splitted their focus on nature just like Christine Nguyen’s artwork which  symbolizes the weather , mountains, and ocean creature in Indonesia in a collages of batik dyeing arranged. She also did a watercolors on oil paper to create an impression of layering.

When visiting the exhibition, the first look on the front is the work of Heri Dono. It’s about a pair of robots in dark gray, made of fiber had six-legged of dragon leg’s anatomy. It looks like a contemporary horse pegassus with human head with horns which trunked. This sculpture signifies another representation ofIndonesian culture whose like to celebrate every single little things to thank God. Indonesian likes to hold a reception and opening  ceremony celebrated with great fanfare and a wider smile than usual.

7
Lee Wan the Korean artists show his work abut instalation of three tables and batik fabrics is hanging on the wall near it. Show about a mix ideaas between nature and culture

Instalation about tables which made from the real wood in Indonesia displayed by other artists from Korea named Lee Wan. Each desk above there are a pile of paper containing his views of the about Indonesian nature focusing on trees and mountains, and culture? He falls in love with Indonesian batik. Beside that, indieguerillas presents works of sculpture of chicken piggy pink, blue, and yellow were placed flat on a rocking chair without a backrest. Exhibition ‘s visitor can participate also by enter the hope that written on paper together with coins. This work means that every hope and dream that we collect is just a dream that we collect, if you’re not doing anything to make it cometrue. All you have to do is collect your dreams, make an effort and get your projects done.

32

In the exhibition, there will always a work of propaganda. Installation of Angki’s artwork about the scanning of 5000 rupiah currency, take away so’un rice, and crushed cigarette’s pack. Angki’s work entitled propaganda of this. Brings us the gimmick 5000. If they were made to buy cigarettes or buy rice packets, it’s about the identity and the food-needing. Smoking is always about an identity behind the propaganda to public. From what it seen, if 5000 could be using to buy so’un rice which healthy for your food-needing but sometime people denial to feel hungry, so they buy smoke to get their brain think. Then, which one is your propaganda behind your 5000? A cigarettes? Or food? The’’re good and bad af in one simple 5000 rupiahs.

6
Christine Nguyen’s work – spirit and lights

The collaboration’s result of musicians and graphic designer in the group called Marco Rios present a piece of music inserted in iPad and  hang it on the wall along with three pieces of shirts.  Heri Dono and Christine Nguyen also collaborated using watercolors and splash technique responded those images of water creatures in the style of naives art.

9
Marco Rios’s artwork

Cemeti Art Space membuka pameran berjudul First Sight in Jogja (Pandangan Pertama di Jogja, #cieee). Karena waktu itu aku gak bawa kamera ni sob jadi ya siang tadi aku balik lagi ke sana untuk ambil foto-foto semua karya.

Pameran ini diikuti oleh Angki Purbandono, Christine Nguyen, Heri Dono, indiguerillas, Lee Wan, Marco Rios. Pameran ini terselenggara secara kolektif dari hasil residensi sekelompok seniman dari dalam dan luar negeri menanggapi bagaimana mereka melihat Jogja pada pandangan pertama. Setelah menyelenggarakan reduksi konsep dan perenungan, kemudian terselenggaralah pameran ini dengan 8 judul karya.

Saat mendatangi pameran, yang pertama terlihat adalah karya dari Heri Dono berupa sepasang robot berwarna abu-abu tua yang terbuat dari fiber, berbentuk seperti kuda pegassus berkaki enam berkepala manusia dan bertanduk juga berbelalai. Di bawahnya terdapat kendang yang berbunyi setiap sepuluh detik bergantian pada setiap patung kanan dan kiri. Patung ini menandakan representasi lain dari kebudayaan orang Indonesia yang selalu gemar merayakan sesuatu. Penyambutan dan upacara pembukaan selalu dirayakan dengan meriah dan senyum yang lebih lebar dari biasanya. Ya, orang Indonesia adalah orang yang menyambut gembira sebuah awal perjumpaan, lihat saja berapa banyak kegiatan orang Indonesia yang mengharuskan berkumpul seluruh keluarga dalam satu desa atau kota kecil. Heri Dono menyampaikan pendapatnya dengan patung ini.

Seniman lain dari Korea bernama Lee Wan menampilkan tatanan meja yang terbuat dari kayu asli Indonesia. Di atas setiap mejanya terdapat tumpukan kertas yang berisikan pandangannya terhadap Indonesia seputar alam dan batik Indonesia. Di dinding tempat meja dibariskan ada kain yang dibentangkan di dinding sekitarnya. Kain tersebut memuat tulisan korea seputar alam Indonesia dan keinginan Lee Wan untuk membuat meja dari kayu Indonesia yang menurutnya akan menjadi hal yang menakjubkan kan kan kan. Wew.

Indieguerillas menghadirkan karya berupa patung celengan ayam berwarna merah muda, biru, dan kuning yang diletakkan menempel di atas kursi goyang tanpa sandaran. Celengan ayam tersebut dapat dimasuki kertas harapan yang  dimasukkan bersamaan dengan koin dan voila! Ayam itu akan bergerak back and forth, back and forth. Kenapa ayam? Karena ayam adalah salah satu makhluk hidup yang semua elemen di tubuhnya itu memiliki kegunaan. Hal ini dihadirkan dapat bergoyang untuk mensimbolkan bahwa setiap doa yang kita kirim akan diterima, namun pencapaiannya terserah pada dirimu sendiri. Namun ayam-ayam penghitung mimpi tidak akan bisa mengabulkan mimpi-mimpi yang kamu tulis, it’s all depends on your act, that chicken is only collect your dream not making it cometrue.

Dalam pameran akan selalu ada karya tentang propaganda. Instalasi dari hasil scanning uang 5000an rupiah, disejajarkan dengan bungkus nasi so’un ala angkringan, dan bungkus rokok yang remuk (cie bahasanya remuk boss!). karya berjudul propaganda dari Angki ini membawa kita, kalo secara gamag nya sih daripada 5000 dibuat beli rokok mending lo beli nasi bungkus dah tu, tapiii namanya juga propaganda, rokok adalah identitas dibalik propaganda diri lo ke publik. Jadi dari apa yang terlihat kalo 5000 bisa dipake buat beli nasi so;un angkringan meski sehat tapi pandangannya gak akan ada harganya, malahan di cap ‘low-economy-class’ tapi kalo beli rokok, hal itu menandakan meski miskin, anda adalah orang yang berfikir meresapi hidup. Even if u’re low class hide on the 5000rupiahs, you still want the vibes about smoke. Cigarettes life.

Heri Dono dan Christine Nguyen berkolaborasi pake cat air dan teknik splash menghasilkan gambar-gambar absurd yang naif berbicara tentang pengalaman mereka menanggapi makhluk-makhluk dalam air. Nahhh airnya, air apa nih? Sepertinya airnya ini gabungan dari air laut dan air dalam imajinasi mereka. Air imajinasi. (ah elah)

Karya musik?

Ada dong! Hasil kolaborasi dari musisi yang terkumpul jadi satu grup kolektif bernama marco rios menghadirkan karya musik via mp3 yang dimasukkan ke iPad dan dipajang di dinding bersamaan dengan tiga pieces kaos yang juga hasil kolaborasi desainer grafis. Musiknya tipikal musik low-beat, dengan lirik sederhana dan lagi-lagi propaganda tentang mimpi, proyek yang harus selesai, dan waktu yang kian menyempit memaksa keras otak untuk berfikir ditengah kesempitan. Gimana bahasa gue? Keren kan?.

Jadi gitu, teman-teman pemerhati seniku, pameran ini bagi saya semacam kaya hasil laporan penelitian berupa karya. Mereka melihat Jogja dari sudut pandang tiap seniman. Ada yang fokus di alam dan gunung seperti Christine Nguyen yang dua karyanya melambangkan cuaca di Indonesia dihadirkan dalam kain batik celup yang disusun kolase, sama cat air yang dikerjakan diatas kertas minyak memunculkan kesan layering.

Di Jogja, semua bisa diciptakan, entah itu pasar buat lo sendiri acara atau buku. Lo bisa berkarya semau lo, dan berpameran semau lo. Di Jogja, seniman udah setara seperti pejabat. (dsrw)