nyaman = mager = tidak produktif = bego

1

Batas waktu untuk berada di rumah itu seminggu, lebih dari itu saya akan dianggap sebagai beban keluarga. (kalau nggak ikut bantu-bantu). Kenyamanan yang ada di rumah memang nggak mewah tapi uwenak dek! dan cukup membuat kemageran meluap. Akibatnya? kehilangan identitas diri, sama dengan mengundang otak kedalam jurang kebodohan. jiaah, emang gue pinter? enggak padahal.

3

Yak, ngomong-ngomong soal pulang kampung, yang namanya mahasiswa perantau di kota orang itu pasti kangen rumah. Mereka pasti ditanyain orang tua, kapan pulang kapan makan di rumah ibu masak ini bapak makan itu. Suasana rumah yang hangat dengan kasih sayang orang tua serta makanan bergizi yang gratis tersedia begitu saja. kenyamanan karena ketersediaan ini  kemudian membuat kita malas-malasan dan tiduran enak di kasur sambil nonton tv.

2

Ramadan kemarin saya memutuskan untuk pulang ke Madiun lebih cepat. Saat (beberapa) teman yang lain masih berada di Yogya, saya pulang tanggal 19 Juli. Mereka menyusul pulang ke kampung masing-masing dua hingga tiga hari setelahnya. Tapi jangan salah, banyak juga yang masih bermalam di kampus menikmati wifi hingga akhir bulan Juli sih.

Sebenernya pengen ke rumah lebih awal itu salah satu alasannya adalah karena sa ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga tapi nyatanya: INI ADALAH BENCANA !!!!. Saya adalah tipikal orang yang melakukan banyak hal dan selalu mulai di pagi hari kurang dari jam 9.  ‘early morning people’ gitu sebutan kerennya. Mau begadang sampe jam berapapun saya tetap akan bangun sebelum jam 9. Kebiasaan early-morning ini kemudian membawa saya pada bencana besar saat saya berada di rumah dengan segala fasilitas kemageran. Bangun tidur yang biasanya saya di kosan itu nyapu atau beres-beres kamar atau baca buku, di rumah saya langsung cari remot dan liat tv, wtf. Untung puasa, jadi gak ngemil. Kalo di kosan saya terbangun sebelum jam 7  saya lari-lari gitu pemirsa, tapi kalo di rumah, beehhh mau lari-lari di liatin tetangga jadi saya mengurungkan niat untuk lari pagi. begitu magernya saya bisa berdiam di kasur sambil liat acara gak penting atau ngebego-begoin pemeran di sinetron sampe jam 2 an. sisanya sembari nunggu maghrib? 80% tidur, 20% nya leyeh-leyeh.

20160630_122609

Seminggu pertama ortu maklum dengan aktivitas yang saya lakukan. Mereka mungkin berfikiran saya masih capek atau fasilitas di kosan tidak senyaman di rumah, jadi saya diperbolehkan malas-malasan. Minggu kedua, saya udah mulai mengeluarin barang-barang yang ada di backpack, dikeluarin deh itu satu-satu. Lupa juga kan ada novel yang belum selesai dibaca, sketchbook yang nggak di isi, green tea dari gunung yang belum diicip. Semua karena kemageran. Mager adalah virus. minggu kedua saya tetap sia-sia mengeluarkan barang-barang dari tas, karena yang saya lakukan setelahnya adalah membantu orang tua dengan aktivitas perumah tanggaan seperti memasak, mencuci baju, ngebersihin wc dan kamar mandi, nganter makanan buat buka puasa di masjid, yah, dan beberapa target yang saya ingin lakukan di rumah berhubungan dengan apa yang ada di tas? hanyalah bullshit semata.

kangen rumah sih, tapi gak gitu juga kali.

tiga minggu dirumah sa cuma nggambar satu kali, dan nulis satu kali dengan jumlah kata kurang dari 500. so lame.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s