Lagi malas bahasa Inggris-an.

tangisan

Seharusnya di usiaku yang tak lagi muda aku sudah bekerja, bisa membeli segala hal yang aku suka. Alih-alih membahagiakan orang tua dan menghadiahi mereka kebanggaan tentang pekerjaan dan gaji, aku malah masih meminta support mereka untuk lanjut es dua. Aku malu belum pernah bekerja. Membayangkan instansi dan korporasi saja sudah membuatku enggan berdera.

Aku merangkum perjalananku membandingkan kota-kota terkenal di pulau Jawa, Indonesia dalam sajak dengan akhiran huruf yang seragam. mencari nada dalam tolak yang beragam.

T. Menjadi elang, terbang dalam keegoisan adalah hal yang paling pailit. Aku takbisa menghardik atau dihardik siapapun karena aku terbang sendiri mengikis pemikiran yang sempit. Pernah aku berfikir, apa salahnya menjadi sempit?. Menjunjung idealisme yang kuanggap kongkrit. Tak perduli orang menganggap aku tak mau bangkit. Tapi benar juga, aku butuh mereka yang lebih lemah agar aku bisa menilai apakah ini layak disebut ide buncit yang kian berdecit.

A. Aku bisa dibilang cukup banyak berkelana. Mengunjungi kota-kota di Indonesia meski masih seputaran pulau Jawa. Aku tahu, banyak perbedaan di sini dan di sana. Sebut saja 5 kota besar di Indonesia, mereka memiliki kekhasan nilai, keseharian dan estetika.

Ng. Jakarta misalnya, kota dengan 1001 umpatan di jalan dan 300 lebih orang berjalan dengan menggunakan setelan kantor di siang hari hingga malam menjelang. Malamnya, mereka terlihat sibuk di cafe menekan tuts token atm warna biru dengan dengan meja dipenuhi laptop, kopi dan raut kurang senang. Satu hal yang kosong adalah kepedulian mereka dengan sekitar yang tak lengang. Surabaya sama persis pemandangannya dengan Jakarta, mereka adalah saudara yang tak lekang. Menyerap perantau untuk terus datang.

Is. Yogyakarta, Bandung, dan Malang tak bisa disamakan dengan dua kota diatas yang amis. Di tiga kota ini semua terlihat lebih melankolis. Loncat ke Malang, ia adalah kota dengan pemandangan alam yang elitis. Kau boleh saja mendebat, tapi Malang memberiku beragam konsep alam tanpa satiris. Bandung mungkin sedikit penuh memoar karena ia dekat dengan Jakarta yang matrealis. Yogyakarta penuh kesenian tak bisa disangkal disinilah kota dengan makna artis yang sebenarnya, bukan artis selebritis. Jika Bandung banyak memoar, Yogya banyak sudut puitis. Yogyakarta tempat tersantai meski semua berfikir secara retoris. Makanan tersaji dengan aroma yang manis. Mahasiswa berjalan dengan payung dalam cuaca gerimis. Tak sedikit pelancong datang untuk sekedar mencicipi nuansa harmonis.

An. Gabungan dua perbedaan karakter metropolis dan melankolis ada di Semarang yang temaram dengan gedung perkotaan. Semarang mengukir kisah mahasiswa dengan banyak harapan. Berharap tanahnya lapang, pendatang baru terus berdatangan. Mengisi gedung besar yang masih menyisakan kursi dalam ruangan. Memacu otak memenuhi dompet dan kenginan. Agar kelak hanya ada tawa dan tak ada tangisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s