watch porn as an art, could we?

I could bravely answer: NO, Not at all. I bet all people cant get easy watching porn content in any kind of media >> without turn on. But now, its not about turn on again, its about turn on to vomit. HOOOOORRRGGGHH.

untitled2
Its photography jerk!! you stuppid close-minded blogger, Im a high youtuber, you re just a poor blogger

Its been a long time not post my writings on this magnificent kind of blog that I have 500k subscriber and more, sooo sorry reader I need to finish all of my tasks as a college student. Maybe, all of you would think that I’m a kind of desperate blog writer who writes about porn and sex content as an art and I deny that people can afford it without turning on their sex-want-to-go things?. Haha. Yes U’re right. Im fuckin stressed out.

untitled4
Its art of my work! Im an artist! yay!

Yess as an human being no matter what your gender is we’ll always have a turning on a libido system just because when we saw it direct or not, but when it comes up in your phones too many times it will make you sick. Im sick of that, you na? you enjoy it? take that enjoyment things cause Im not.

untitled3
if you dont like me, dont follow me, but you cant keep your eyes scrolling out my feeds, duuumbbb vieweerrrss!!!

I start this write from a simple survey that I just asked to 20 of my friends and showing them a sex comic and let them reading it for a 10 secs, then I asked them: ‘u turn on or na?’ooor ‘r u turn on’ ? and see how many people say yes? 16, 4 is because they maybe too shy to say honest. so, porn in an art? and people accept it as another ideas of something? maybe they could turning left or right the truly meaning is, buuutt what they really feel at the first time is always about sex.

I just thought that every sex content in any kind media of art is torture us about it.

but how if it comes everyday even if we wont?

it keeps come up in your instagram explore fields

bothering

whispering

annoying

grossing

yachting

Soooo, in every morning I have a bad habits, I thought some of people now is feel the same things tho.

No, its not about the old mainstream named morning horny, its about morning srolly. Scrolling instagram’s timeline and see what’s happened there. Everything is okay and feel bored sometimes when I see my own timeline contain of post from people I followed. BUT what happened when I click the explore button?!?!? I just see thousand cleavage, sex comics, stupid-but-sexy karaoke singing duet video, sexy DJ with a big breasts, girl with  I AM SO ENOUGH WITH ALL OF THOSE STUPID RETARDED PORN CONTENT ACTUALLY.

those are too explodeeee!! blooms out over a porn and sex content on instagram become so gross, so meaningless, and not joyable to see and make me keep scrolling on em. Lay on my bed, feel nothing but,… scrolling, scrolling, scrolling. trapped in a stupid laziness moron habits.

day at the museum (exhibition review)

The Second Jogja International Miniprint Biennale 2016 di Sangkring Art Space dan Jogja Contemporary Coordinated by Ruang Atas dan Lir Space di Jogja National Museum.

6 sangkring

Kemarin malam tanggal 24 Mei 2016 terdapat dua acara pembukaan pameran bersamaan di dua tempat. Saya mengunjungi pameran dengan antusias karena apa yang ada di galeri kenamaan biasanya menyuguhkan atmosfer berbeda. Selain menjadi apresiator tentunya saya berbekal kamera dan tangkapan indra bertindak juga menjadi dokumentator, saat saya menulis kemudian saya perlu menitikkan sikap kritis saya terhadap pameran ini. Pameran yang saya kunjungi kali ini adalah The Second International Miniprint Biennale (JIMB) 2016 yang mengambil tempat di Sangkring Art Space, sementara pameran lain yang sedang berlangsung juga bertempat di Jogja National Museum di gedung Jogja Contemporary berisikan karya kolektif dari ruang atas, lir-space, dan lain-lain.

8 sangkring

Pameran yang saya kunjungi pertama adalah di Sangkring Art Space, pada pembukaan saya diberikan lempengan triplek kecil berukuran kurang lebih 20×20 cm untuk dicungkil sebebasnya sembari menunggu pameran dibuka. Pada saat pembukaan nama Rizal Pahlevi sering disebut-sebut bahkan celetukan serius seperti pemberian award kepada dirinya sebagai pahlawan seni grafis yang bukan berasal dari seni grafis harus segera diberikan. Setelah pameran dibuka oleh Prof Dr Dwi Marianto MFA dan 2 pembawa acaranya saya memasuki ruang pameran yang berada di lantai dua. Gedung tersebut bergaya minimalis dan industrial, sisi-sisinya merupakan batu yang dipoles sederhana dan sangaat sederhana dibiarkan alami begitu saja dengan cat tembok berwarna putih menyatu dengan abu-abu cerah yang muncul dari batu-batuan serta beton. Pengunjung terbilang ramai namun tidak sampai berdesakan untuk melihat sebuah karya.

1 jnm

Bertemakan Homo Habilis yang diungkapkan oleh Ketua Juri perlombaan Jogja Miniprint Biennale ini menjelaskan pada booklet pamerannya bahwa Homo Habilis adalah proto manusia, makhluk berjalan dua kaki yang pertama kali terbukti menciptakan alat. Oleh karenanya karya-karya yang ada didalamnya berbicara banyak seputar teknis yang menyublim dan menghipnotis pengunjung tidak terpaku pada teknis setelah karya itu dilepas dalam ruang pamer. Pergerakan yang dapat ditangkap dari pameran ini adalah persepktif baru yang melecutkan pandangan biner bahwa: ‘art lebih utama daripada craft’ sebuah antitesis pandangan bahwa teknis mampu berbicara banyak hal melebihi seni itu sendiri. Semua karya berangkat dari satu teknis yang kemudian menyublim menjadi karya seni.  Kembali pada garis dan titik yang memancarkan keindahan masing-masing sementara teknis menjadi pelecut seluruh karya yang mengusung temanya sendiri-sendiri.

11 sangkring

Karya-karya yang dipajang merupakan hasil perlombaan yang diadakan oleh Jogja Miniprint Biennale kali kedua. Karya dipamerkan dengan menggunakan bingkai kotak-kotak yang tertata rapi dengan ukuran kecil kecil namun banyak. Judul diletakkan dibagian bawah karya dan tersusun dari karya paling atas. Memancarkan kesederhanaan yang menyatu dengan gedung kotak besar. Seakan berada dalam kotak besar yang memuat kotak-kotak kecil pemilik cerita pada setiap bagiannya. Setiap karya memiliki sisi idealis dan ciri khas masing-masing seniman, menampakkan beragam teknik dengan ragam berbeda.

10 sangkrin

Pameran kedua di gedung Jogja Contemporary yang bertempat di Jogja National Museum berisikan karya-karya kolektif dari perupa muda. Sebagian besar adalah karya dua dimensi dari drawing hingga ilustrasi. Namun terdapat dua jenis karya yang bersifat seni partisipatori dan seni instalasi. Seni partisipatori menyediakan kesempatan untuk pengunjung memasuki wilayah karya yang ditata oleh senimannya, yang dihadirkan oleh Lir Space adalah tatanan meja dengan buku-buku kuno dan baru, saat akan memasuki wilayah tersebut yang perlu dilakukan adalah menggunakan sarung tangan. Hal ini merupakan pesan bahwa apa yang baru pada saat ini akan menjadi lama di masa depan oleh karenanya perlu penyediaan tempat untuk relokasi benda kuno dengn sistem pencahayaan yang baik dan tata ruang diamana cahaya yang memasuki celah dapat beriringan masuk tanpa merusak artefak yang ada.

2 jnm

Situasi klise pameran dalam galeri dan museum menjadi hal yang terus menerus timbul, hal ini sering disebabkan oleh karya seni yang itu-itu saja seperti ungkapan ‘it’s a new wine in the old bottles again…’. (Seth Siegelaub in Alexander and Patricia Norvell: Recording Conceptual Art, 2001, dalam Graham and Cook: Rethinking Curating, 2010: 57). Hal ini yang saya alami saat melihat 2 pameran berturut-turut dalam satu waktu. Bukan perihal kecenderungan saya untuk menyikapi seni media baru namun pengunjung pameran adalah seorang yang membutuhkan ide-ide segar untuk melihat bentuk lain terhadap suatu bentuk linier, oleh karenanya kesegaran tersebut membantu pengunjung menemukan pemecahan dari masalah kebaruan kini menyublim dalam gelora seni kontemporer yang redup-terang.

12 sangkring

Pameran seni seringkali menyuguhkan karya-karya baru dengan konsep-konsep segar. Perwujudan dari setiap karya selalu memberikan beragam pandangan seniman dalam menghadapi segala sesuatu dihadapannya termasuk teknik yang digunakan untuk mencipta karya-karya tersebut. Tidak ada yang salah dalam berkesenian, semua unggul dengan gaya dan ciri khas masing-masing. Semakin absurd nilai sebuah karya maka hal itu akan memancing penasaran, jika pengunjung tidak segera menemukan informasi terhadap karya tersebut mereka biasanya cenderung melupakan karya tersebut meskipun sering terngiang dan menghantui pengunjung.