Fashion Jewellery (book review)

A Propaganda Beyond Jewellery

Jewelry? Is that always about luxury and exclussively? This book is givin you another persepctive about jewelry, it could be a patriortic identity for your existence politics. Here we go my review about this book.

20160524_122338

Buku dari Maia Adams ini menyediakan berbagai perspektif baru yang bersifat provokatif. Diterbitkan oleh Laurence King Publishing Ltd, London berisi 33 desainer perhiasan yang representatif terhadap gaya individual pemantik tren, mereka diantaranya adalah: Alexis Bittar, Annabcn, Arielle De Pinto, Atelier 11, Bless, Daisuke Sakaguchi, David & Martin, Delfina Delettrez, Elke Kramer, Erickson Beamon, Florian, Husam El Odeh, Jordan Askill, Judy Blame, Lara Bohinc, Laura B, Ligia Dias, Marion Vidal, Michelle Jank, Naomi Filmer, Natalia Brilli, Philip Crangi, R, Sabrina Dehoff, Scott Wilson, Shaoo, Sonia Boyajian, Uli Raap, Wouters & Hendrix, Yazbukey, Yoshiko Creation Paris. Gimana? Ada yang kenal?.

Penjelasan rinci mengenai mengapa setiap manusia menggunakan perhiasan hingga penjabaran mengenai bagaimana perhiasan dapat merepresentasikan jiwa pemakainya diikuti dengan beragam quotes yang dicetak besar serta fotografi yang tidak common pada fotografi-fotografi fashion sebelumnya kemudian menjadikan buku ini sangat menyegarkan mata sekaligus membuka cakrawala pandangan baru terhadap perhiasan. Perhiasan adalah statement, pernyataan yang membangkitkan simbolis potensial dalam diri manusia. Perhiasan tidak hanya merepresentasikan apa yang bagus dari tubuh manusia, namun melalui perhiasan kita juga bisa mengkritisi sesuatu.

20160524_122703

Perhiasan dapat menjadi simbol pemikiran kita yang kita ungkapkan secara visual melalui bahasa busana. Jika dikaitkan dengan seni, selain baju, perhiasan dapat menjadi sisi politis seorang manusia, dia bisa ditampilkan setiap hari. Perhiasan bisa menjadi adiktif bagi sebagian orang pemburu status sosial, namun bagi orang yang penuh dengan sikap kritis perhiasan dapat menjadi media sarkas berangkat dari hal kecil seperti anting. Karya Arielle de Pinto misalnya, dia berfikiran menyisir masyarakat untuk menggunakan karya perhiasannya sebagai benda yang sederhana dan mudah digunakan kapanpun tanpa berfikiran baju apa yang cocok untuk perhiasannya. Atelier 11 kemudian hadir menggunakan material bertabrakan yang pada awalnya tidak untuk perhiasan namun mencipta hal-hal kecil yang ‘gila namun bisa digunakan’ dalam keseharian semangat yang sama dengan jiwa kontemporer. Bless kemudian hadir dengan kegilaan yang lebih dalam memadukan komponen-komponen berbeda dengan tujuan menghias benda yang tidak bisa dipakai berbusana. Bless cenderung menghiasi benda yang ada di kehidupan sehari-hari meski tidak sedikit karya yang dia hasilkan dan bisa digunakan sebagai bagian padu padan busana.

20160524_123139

Perpaduan dua budaya antara Inggris dan Jepang kental menghiasi karya perhiasan Daisuke Sakaguchi. Elemen looks-like-metal-pieces yang cenderung dapat digunakan sebagai alat untuk berperang dibandingkan perhiasan muncul sebagai spirit utama karya Sakaguchi. David & Martin membuat spirit nilai darknest-elegante dengan spirit warna hitam dan emas yang tampil dalam karya perhiasannya. Bulu dan batu? Defina Delettrez meracuni matapenikmat perhiasannya dengan sesekali menampilkan detail kecil serangga dan tengkorak. Semua hal yang disukainya perihal seni menjadikan hal-hal kecil sebagai kemurnian dalam keragaman intensitas hidup. Baginya ambiguitas adalah hal absurd yang tidak dapat dilepaskan dari sisi kehidupan. Erickson Beamon berkarya dengan merespon baju yang digunakan oleh model, bermain dengan emosi yang terpancar dari baju dan konsep yang diusung desainer busana, Beamon mampu menangkap secara kontradiktif atau secara linier atas apa yang berusaha ditampakkan desainer busananya, semangat yang sama juga tampaj dalam karya Florian.

20160524_122639

 

Husam el Odeh tampil dengan melipat arus tren busana melalui gaya yang artistik dan menolak nilai fungsional. Jika ditampilkan dalam fotografi, karya Husam cenderung bisa digolongkan dalam karya seni ketimbang fashion jewellery, namun bagi penganut aliran fashion yang suka memadukan kontras antara kedua hal tersebut pasti akan memilih Husam sebagai pemantik artistik dalam peragaan fashion, sejalan dengan Jordan Askill,  dan Judy Blame. Menelisik karya dari desainer perhiasan lain yakni Laura B, Lara Bohinc,  yang kembali menampilkan kesan darknes-elegante dengan berani mencampurkan sisi kerasa dari baja dan besi. Sementara Ligia Dias mengkontradiksi keindahan elegan dengan rangkaian besi, kain, mutiara dan batuan dalam karyanya yang menempel di baju, pas melingkari leher, dan dengan tambahan sesuatu berbulu.

20160524_122758

Marion Vidal bermain dengan teknik cetak yang membebaskannya membentuk siluet sebagai bagian dari baju dan untuk merangkai impresi pelihatnya. Michael Jank menampakkan kebebasan berekspresinya dalam karya perhiasan berukuran besar sebagai wujud peperangan ideologi untuk menafsirkan perbedaan kecenderungan kelas, perhiasannya cenderung kontradiktif secara kooperatif, menyublim namun menentang. Karya Naomi Filmer cenderung seperti karya seni patung yang dapat dipakai (wearable art). Bentuknya seringkali cenderung merepresentasikan bentuk-bentuk abstrak dari sebuah lukisan pada umumnya dan sesekali tidak merepresentasikan perhiasan yang mudah dimengerti sebagai perhiasan. Natalia Brilli berkarya dengan siluet tiga dimensi dari bentuk-bentuk hewan yang dia cetak senada dengan temali yang digunakan untuk menggantungkan liontin siluet.  Satu kalimat yang tepat untuk merepresentasikan karyanya adalah perplexing yet sexy and eerie.

20160524_122951

Beralih dari karya-karya membingungkan dari Natalia Brilli, di halaman selanjutnya terdapat karya dari Philip Crangi yang menampilkan warna-warna emas namun gelap, hal ini dikontraskan lagi dengan tampilan batu-batuan yang berwarna putih buram, jenis fotografi yang digunakanna ccenderung menampilkan sisi lain wanita yang kelelahan, penuh dengan penasaran, dan kesedihan. Teknik fotografi tersebut dipilih juga oleh Sabrina Dehoff untuk perhiasan-perhiasannya berliontin kecil dengan detail sederhana dan penuh dengan kesan innocent untuk digunakan.

Banyak karya dalam buku ini mereperesentasi ulang konsep perhiasan yang semula dianggap indah apabila dia berkilauan, penuh dengan bebatuan mahal. Disini perhiasan tidak harus yang berada dalam jenis seperti itu, namun ia bisa menggunakan tembolok besar sebagai penanda pemakainya bahwa ‘saya pengguna perhiasan, bukan perhiasan biasa, namun perhiasan yang mengundang propaganda’. Jenis-jenis seperti itulah yang terangkum dalam buku Maia Adams berjudul Fashion Jewellery.

Jadi…inilah hasil dari seminggu yang lalu dimana saya pergi ke perpus bermaksud untuk menyelesaikan tugas, gak konsen kalo dikosan pasti ingin tiduran.  Setelah ketik-ketik tugas, saya melirik perpus dengan kecantikan tatanan bukunya kemudian melihat satu buku yang seakan berkedip dan melambaikan tangannya ke arah saya. Semua karena kover, ya jelas sih, kovernya aja cewek maskulin dengan anting tulang yang dipadu dengan rantai hias kecil. Blinks Out!. Karena saya suka untuk membaca buku yang menyediakan kesegaran perspektif dan cara pandang yang baru terhadap apapun. Seperti pijakan dualitas yang berbelit dan memiliki keindahan di tiap sisinya, buku ini pun kemudian saya tarik dari raknya, baca scanning sebentar, dan look interest  saya bawa pulanglah ia.

say it loudly. Lonesome Lullaby could make anything visioner.